Oleh: Iguh Rahman, Consulting Director

KUMITUKONSULTAN.COM – Kita sering melihat orang-orang kreatif di dalam lingkungan pekerjaan kita. Orang yang sering mengemukakan ide dalam sebuah rapat, yang ide tersebut disetujui setelah mengalami proses review, tantangan, dan kondisi-kondisi sebelum ide itu diputuskan bersama.

Bagaimana caranya?

Ternyata proses  pengambilan ide untuk improvement, melalui mekanisme Berpikir Kritis (critical  thinking). Berpikir kritis dimiliki oleh manusia sebagai pembawaan manusia untuk berpikir jernih dan rasional. Kemampuan menganalisis fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen serta memecahkan masalah adalah bagian dari Berpikir Kritis di dalam sebuah sesi meeting dan brainstorming. Berpikir Kritis berarti juga bersifat objektif dan rasional dengan penuh logika dalam menganalisa masalah. Seperti analogi: “Mengapa AC split bocor?” Orang dengan berpikir kritis akan mencari sumber kebocoran, menganalisa dan membuat kesimpulan untuk perbaikan.

d266ee40ee75f4e3cce3b07d9efa0843

Perbedaan mendasar antara orang Berpikir Kritis dan orang Berpikir Kreatif.

Berbeda dengan tipe orang selanjutnya yaitu Berpikir Kreatif (Creative Thinking), dan ini cara berpikir yang sedikit lebih maju daripada Berpikir Kritis. Berpikir Krtis menemukan ide dan mengevaluasinya, tapi Berpikir Kreatif mampu mengubah ide menjadi hal yang lebih baik, bahkan mampu memecahkan masalah dari sudut pandang yang berbeda. Orang yang Berpikir Kreatif tidak hanya soal penyelesaian masalah, tapi juga mampu inovasi dari problem tersebut. Teknik pemecahan masalah orang yang Berpikir Kritis cenderung linear, berurutan, sistematis, rasional dan berorientasi pada tujuan. Sementara orang Berpikir Kreatif cenderung holistik, paralel, lebih intuitif dan emosional, kreatif, visual dan taktis. Jika dikaitkan dengan cara kerja otak, maka Berpikir Kritis didominasi oleh otak kiri (analitis, logis dan objektif), sedangkan dominasi Berpikir Kreatif ada di otak kanan (global, paralel, emosional dan subjektif).

Baik Critical maupun Creative Thinking keduanya diperlukan dalam brainstormingsehingga keduanya merupakan cara berpikir yang saling melengkapi. Boleh dikatakan Berpikir Kritis merupakan proses yang konvergen mempersempit ide-ide baru sehingga ide terbaik yang dipilih dalam konteks tertentu. Sementara Berpikir Kreatif adalah proses divergen dimana ide-ide digeneralisasi menjadi imajinasi atau alternatif ide, mencari hubungan antara unrelated concept dan bahkan mampu mendapatkan ide dari sudut pandang yang berbeda.

c0f4be66c55cd9d0df58ac0fb64fd588

Proses berpikir kritis dan berpikir kreatif adalah proses yang saling melengkapi untuk mendapatkan ide-ide yang briliant.

Contoh :

Kembali  ke kasus AC split bocor di ruangan. Ketika anda mengatakan bahwa penyebab AC tersebut adalah kurangnya perawatan yang menyebabkan filter AC kotor, ataupun freon habis, dan anda mengusulkan ide untuk melakukan checklist perawatan rutin AC, itu cara berpikir kritis. Dua minggu kemudian AC tersebut bocor kembali. Fakta menunjukkan sudah dilakukan perawatan rutin AC dan checklistnya. Otak kanan anda men-generalisir ide ‘bagaimana bila ditelusuri sumber penyebab kebocoran tersebut’. Idenya adalah mencari penyelesaian masalah dari fakta yang bertentangan. Anda mulai menelusuri sumber kebocoran dan didapatkan bahwa kebocoran tersebut berasal dari tampias air hujan akibat talang air yang mampat oleh sampah-sampah dedaunan. Fakta ini anda analisis dan dengan menggunakan proses berpikir kritis anda memutuskan untuk menebang ranting-ranting pohon yang menyebabkan dedaunan jatuh ke dalam talang air.

Mengapa sulit mencari solusi-solusi atas permasalahan yang terjadi di dalam meeting ataupun brainstorming? Karena mungkin saja tipikal peserta meeting banyak menggunakan proses berpikir kritis (vertical thinking), yang membahas suatu masalah menjadi suatu issue yang tiada henti terjadi. Meskipun sudah memutuskan solusi, tapi hal tersebut muncul kembali sebagai masalah klasik.

Adalah Dr. Edward De Bono yang menggagas Lateral Thinking dengan metode Six Thinking Hats sebagai alat berpikir kreatif dalam menentukan suatu solusi yang out of the box. Menurut De Bono, ide-ide cemerlang itu muncul ketika menggunakan daya imajinasi, perasaan dan emosi tidak hanya berpaku pada logika saja. Dengan demikian Lateral Thinking membantu dalam proses menentukan ide-ide brilian anda dengan cara:

1. Menyeleksi dan mendefinisikan fokus

Pada tahap ini masalah, tantangan, dan kesempatan didefinisikan. Fokus di pendefinisian ulang secara hati-hati dan saksama.

2. Men-generalisir Ide

Mengelola ide untuk dirumuskan, ada beberapa tools seperti What If, Concept extraction challenge, random entry, provocation and movement.

3. Merangkumkan Ide

Pengelolaan ide dari tahap 2, dicari manfaat-manfaat dan diberi nilai agar konsep ide tersebut mampu terimplementasi.

4. Pemilihan Ide Terbaik

Dari ide-ide yang sudah di treatment dan assessment, terpilihlah ide yang terbaik.

Cara Memperbaiki Internal Perusahaan

Six Thinking Hats (STH) mengajarkan Lateral Thinking dengan cara meningkatkan kualitas daya berpikir untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif. Dengan metode ini seseorang tidak hanya dilatih berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah dalam waktu tertentu, tetapi juga mempersiapkan seseorang untuk dapat menerima dan menghargai pendapat atau ide orang lain. STH dapat digunakan baik individu ataupun group diskusi. Disini individu ataupun group memisahkan cara berpikir tentang sebuah topik kedalam 6 kategori. Setiap kategori diwakili dengan 6 warna topi yang berbeda. Dengan memakai topi dan berganti topi individu ataupun group dapat memfokuskan pemikiran kedalam topik pembicaraan. Dengan memakai topi individu ataupun kelompok memainkan peran dalam brainstorming suatu masalah dan menciptakan ide dari permasalahan tersebut.

the-six-thinking-hats

Fungsi topi dan penjelasan topi dalam Six Thinking Hats

Penjelasan warna topi tersebut adalah:

  1. TOPI PUTIH – INFORMASI

Topi putih memfokuskan pada data yang tersedia dan data yang diperlukan. Melalui data dan informasi tersebut, kita dapat mempelajari dan menganalisis situasi dan kondisi.

2. TOPI HITAM – RISIKO

Dengan mengenakan topi hitam kita belajar melihat sisi negatif atau risiko dari keputusan yang akan diambil. Hal ini penting untuk menyiapkan contingency plan dalam mengantisipasi kondisi darurat sebelum memulai sebuah tindakan.

3. TOPI KUNING – MANFAAT

Topi kuning memungkinkan kita untuk berpikir positif dan optimis dan melihat seluruh manfaat dan nilai tambah yang dihasilkan dari sebuah keputusan.

4. TOPI MERAH – PERASAAN

Dengan menggunakan topi merah, kita memandang masalah dengan menggunakan intuisi, naluri, dan emosi. Selain itu dengan mengenakan topi merah kita dapat melihat reaksi dan respons seseorang terhadap keputusan yang diambil.

5. TOPI HIJAU – KREATIVITAS (SOLUSI KREATIF)

Mengenakan topi hijau mendorong seseorang untuk mengembangkan daya pikir imajinatif, out of  the box, sehingga dapat  dihasilkan solusi-solusi kreatif dan benar-benar beda.

6. TOPI BIRU – PENGENDALI

Pemakai topi biru adalah personil yang ditunjuk untuk mengendalikan jalannya diskusi. Ia bertindak sebagai pemimpin rapat yang mengatur jalannya proses berpikir. Ia yang menentukan saatnya para peserta rapat menggunakan dan mengganti topi-topi tersebut.

Menggunakan topi-topi tersebut membuat Anda memainkan peran dan menentukan pola berpikir sehingga dapat menghasilkan ide-ide kreatif. Dengan tools ini di dalam program improvement, anda dapat tahu bagaimana cara memperbaiki internal perusahaan, serta menginovasi sebuah produk atau seris dapat terwujud dengan menghasilkan ide yang out of the box.

Hubungi kami untuk training business process dan training lainnya. Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *