Oleh: Rokani Darsyah, Senior Konsultan

KUMITUKONSULTAN.COM – Maraknya isu akan produk makanan dan minuman yang tak layak dikonsumsi menjadi viral begitu muncul di media sosial maupun media online. Semua orang tentu akan berkomentar, hal ini juga membuat ketakutan besar di kalangan masyarakat khususnya pelanggan produk tersebut.

Seperti beberapa hari lalu, misalnya, tersebar video tentang produk makanan yang dibakar dan nyala api seperti lilin. Dalam video itu tampak beberapa anggota polisi tak percaya dengan temuannya. Suara-suara sumbang menyatakan bahwa produk makanan itu berbahaya, tidak layak dikonsumsi, juga ada yang menyatakan bahwa produk tersebut harus segera ditarik dari peredaran. Lantas, apakah produk yang dinyatakan demikian dapat juga dinyatakan sebagai produk tidak bermutu?

Sebuah produk merupakan hasil dari suatu proses. Dihasilkannya sebuah produk tidak terlepas dari interaksi banyak proses yang melibatkan pelanggan, karyawan, manajemen, investor, bahkan pemerintah dan masyarakat sebagai pemangku kepentingan (stakeholder). Produk bermutu seharusnya merupakan produk dari organisasi yang memiliki sistem manajemen yang baik pula.

Setiap organisasi atau perusahaan wajib bertanggungjawab terhadap mutu produk mereka. Organisasi atau perusahaan yang bermutu haruslah fokus untuk mencapai kepuasan pelanggan, dengan menetapkan persyaratan pelanggan dan memastikan telah memenuhi persyaratan pelanggan.

Lantas pelanggan yang mana? Pelanggan yang pintar tentu ingin terus meningkatkan pemahamannya terhadap kualitas suatu produk, serta memastikan bahwa produk tersebut aman dan layak dikonsumsi. Nah, apakah produk makanan yang viral di media sosial itu memenuhi persyaratan pelanggan?

Agus Susanto G, Wakil Pimpinan PT. Nissin Biscuit Indonesia mengklarifikasi soal produk yang diduga dicampur dengan bahan kandungan lilin. “Hal tersebut tidak benar,” tulisnya lewat surat resmi perusahaan yang juga jadi viral di media sosial.

klarifikasi-wakil-pimpinan-pt-nissin-biscuit-indonesia

Sementara itu, Krishna Dwi Lesmana mengunggah beberapa foto mengapa produk makanan tersebut bisa menyala. “Namanya makanan terbuat dari gandum, terigu, gula, lemak yang memiliki senyawa Hidrokarbon (lemak, minyak, lilin, gelatin) dan karbohidrat (gula, tepung, nasi, gandum, kentang), ya jelaslah mudah terbakar. Namanya makanan adalah sumber kalori atau bahan bakar yang dibutuhkan tubuh untuk menghasilkan energi,” tulisnya lewat status publik di salah satu media sosial.

produk-makanan-dibakar

Salah satu foto yang diunggah oleh Khrisna di akun Facebook miliknya.

Selain memenuhi persyaratan pelanggan, produk bermutu juga harus terbebas dari permasalahan pemenuhan peraturan-perundangan. Dari kecurigaan produk makanan di atas, masyarakat seharusnya berusaha mencari informasi lain. Ada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) yang bertugas memeriksa kualitas produk makanan, sebelum produk itu dipasarkan, sistem manajemen mutu ISO 9001, sistem manajemen keamanan pangan ISO 22000, HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) dan SNI serta proses audit yang ketat.

Sebuah upaya yang baik telah dilakukan oleh sebagian perusahaan dalam mengidentifikasi siapa pelanggannya dan bagaimana cara memenuhi persyaratan pelanggannya. Semoga penjelasan yang singkat ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai mutu suatu produk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *